Oleh : Fatma Fillah
Ketua Rombongan Umrah Private PT Allafa Bilharomian
Perjalanan ini bukanlah tentang kemewahan yang dipamerkan, bukan pula tentang deretan angka di saldo tabungan. Ini adalah sebuah hikayat tentang hamba yang rindu, yang dijawab dengan undangan eksklusif dari Sang Pemilik Semesta. Kami berangkat—saya, isuami tercinta Mohammad Subhan, ketiga buah hati kami: Kak Fifi, Balqis, dan Hanief, serta asisten rumah tangga yang telah kami anggap sebagai bagian dari keluarga—bukan karena kami merasa kaya secara materi, melainkan karena kami merasa kaya akan rahmat-Nya. Perjalanan dari 24 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026 ini adalah bukti nyata bahwa Allah tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Allah memampukan mereka yang terpanggil.
pagi itu kami pamitan dirumah pasnya tanggal 24 Desember sore di Bandara Juanda di Surabaya menjadi saksi keberangkatan kami yang penuh haru. Menaiki Lion Air Airbus 030 tepat pukul 16.00 WIB, kami menduduki kursi 1A hingga 1F. Menatap cakrawala dari balik jendela pesawat, ada debar yang tak biasa. Perjalanan panjang menuju Jeddah ditempuh dengan lisan yang tak henti berzikir. Kami mendarat di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, pukul 23.30 tengah malam waktu setempat. Malam yang sunyi itu terasa begitu hangat saat kaki pertama kali memijak bumi para nabi. Dari Jeddah, kami langsung bertolak menuju Madinah Al-Munawwarah, kota yang menjanjikan ketenangan bagi setiap jiwa yang datang.
Madinah: Keheningan di Kota Sang Nabi
Setibanya di Madinah, kami menetap di Hotel Jawharat al Rasheed. Selama di sini, pusat gravitasi kehidupan kami adalah Masjid Nabawi. Shalat berjamaah lima waktu menjadi rutinitas yang kami rindukan setiap detiknya. Namun, Madinah juga menyimpan jejak sejarah yang kami telusuri satu per satu dengan penuh khidmat.
Kunjungan pertama kami adalah Masjid Ghomamah, tempat di mana Rasulullah SAW dahulu melakukan shalat Istisqa dan awan-awan senantiasa memayungi beliau agar tidak kepanasan. Tak jauh dari situ, kami berdiri di depan Masjid Abu Bakar dan Masjid Sayyidina Ali, dua tempat yang mengingatkan kami pada keteguhan para sahabat dalam membela dakwah Islam. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Bani Saqifah, sebuah taman bersejarah yang menjadi saksi bisu musyawarah penting pemilihan pemimpin umat setelah wafatnya Rasulullah.
Langkah kami kemudian tertuju pada Makam Baqi’, tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan sahabat dan keluarga Nabi. Di sini, kami merenung tentang kefanaan dunia. Perjalanan berlanjut ke Jabal Uhud, bukit yang kelak ada di surga, tempat gugurnya para syuhada dalam pertempuran Uhud. Kami juga singgah di Masjid Qiblatain, masjid dua kiblat yang menjadi saksi ketaatan Nabi saat diperintahkan memutar arah shalat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah. Di Masjid Quba, kami shalat dua rakaat demi mengejar keutamaan pahala satu kali umrah. Sebelum meninggalkan Madinah, kami menyempatkan diri ke Pusat Jual Kurma untuk mencicipi berkah hasil bumi Madinah. Namun, puncak dari segalanya adalah Raudhah. Berdiri di antara makam Nabi dan mimbarnya, kami menangis, menitipkan salam, dan memohon agar syafaat beliau senantiasa menyertai keluarga kami.
Mekkah: Tawaf Cinta dan Pergantian Tahun di Jantung Dunia
Setelah mereguk kedamaian di Madinah, kami bergerak menuju Mekkah. Kerinduan kami memuncak saat bus berhenti di Masjid Bir Ali untuk mengambil Miqat. Di sinilah niat umrah pertama kami ikrarkan. Mengenakan ihram putih yang setara bagi semua manusia, kami memasuki Mekkah dengan talbiyah yang bergetar.
Mekkah adalah tempat kami menunjukkan totalitas penghambaan. Selama di sini, kami tidak hanya melakukan satu kali umrah. Umrah kedua kami ambil Miqat di Masjid Ji'ronah, tempat bersejarah pembagian harta rampasan perang Hunain yang mengajarkan tentang keadilan. Umrah ketiga kami laksanakan dengan mengambil Miqat di Hudaibiyah, tempat terjadinya perjanjian damai yang membuka jalan kemenangan Islam. Untuk umrah-umrah selanjutnya, kami sering mengambil Miqat di Masjid Aisyah atau Tan’iem, tempat yang paling dekat dan memudahkan kami untuk kembali bersujud di depan Baitullah.
Di sela-sela ibadah, kami melakukan ziarah yang mendalam. Kami mengunjungi Makam Ma’la, tempat Siti Khadijah RA bermakam, sosok istri teladan yang menjadi inspirasi bagi Fatmawati dan anak-anak perempuan kami. Kami juga melihat Masjid Abu Bakar di Mekkah dan mendaki area Jabal Khondamah untuk melihat kemegahan Masjidil Haram dari ketinggian. Untuk urusan buah tangan, kami mengunjungi Kakkiyah, pusat perbelanjaan yang penuh dengan keberkahan rezeki bagi penduduk lokal dan peziarah.
Ziarah kami berlanjut ke Jabal Tsur, saksi bisu perjuangan Nabi saat bersembunyi di gua demi menghindari kejaran kaum Quraisy, dan Jabal Nur, tempat Gua Hira berada, titik awal turunnya cahaya Al-Qur'an. Kami juga menapaki Jabal Rahmah di Padang Arafah, tempat bertemunya Adam dan Hawa, simbol cinta yang abadi di bawah naungan rahmat Allah. Perjalanan kami lalui melewati Muzdalifah dan Mina, membayangkan jutaan manusia berkumpul saat puncak haji, hingga akhirnya kami sampai di Thoif. Di kota pegunungan yang sejuk ini, kami belajar tentang kesabaran tingkat tinggi dari Rasulullah yang tetap mendoakan kebaikan meski disakiti.
Satu hal yang membuat perjalanan ini terasa luar biasa adalah momen Malam Tahun Baru 2026. Di saat dunia luar mungkin merayakannya dengan pesta dan hura-hura, kami sekeluarga justru berada di jantung dunia, Mekkah Al-Mukarromah. Menghabiskan detik-detik pergantian tahun di bawah bayang-bayang Ka'bah adalah sebuah kemewahan spiritual yang tak tertandingi. Kami merasa sangat bahagia dan bersyukur. Tidak ada suara terompet, yang ada hanyalah lantunan doa dan zikir yang membubung ke langit. Malam itu, kami bermuhasabah, menyadari bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan beribadah adalah karunia yang paling mahal. Kami berharap, tahun 2026 ini menjadi tahun yang lebih bermakna, di mana iman kami semakin kokoh dan cinta kami kepada Sang Khalik semakin dalam.
Perjalanan ini kami tutup dengan Tawaf Wada, tawaf perpisahan yang penuh air mata. Kami pulang bukan karena ingin meninggalkan-Mu, ya Allah, tapi karena kami harus membawa cahaya ini ke tanah air. Kami pulang bukan sebagai orang kaya harta, tapi sebagai orang yang merasa dicukupkan oleh Allah melalui panggilan-Nya yang eksklusif ini.
"Ya Allah, pemilik Baitullah yang Agung. Terimalah umrah kami, sujud kami, dan setiap tetes keringat kami selama di tanah haram ini. Berkahi istriku Fatmawati, jadikan ia pendamping yang selalu membimbing anak-anak ke jalan-Mu. Jadikan Kak Fifi, Balqis, dan Hanief generasi yang mencintai Al-Qur'an dan menjaga shalatnya. Berkahi pula asisten rumah tangga kami yang telah tulus membantu kami hingga bisa sampai ke sini. Ya Rabb, tahun 2026 ini kami mulai dengan ketaatan di rumah-Mu, maka jadikanlah sisa umur kami penuh dengan keberkahan. Jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami. Panggillah kami kembali, lagi dan lagi, hingga raga ini tak lagi mampu melangkah. Amin Ya Rabbal Alamin."
Semoga cerita ini menjadi kenangan abadi yang dapat diceritakan kembali kepada cucu-cucu Anda kelak sebagai bukti keajaiban panggilan Allah