Jember, 17 Januari 2026 — Telah dilaksanakan kegiatan Anjangsana Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT) Kabupaten Jember yang bertempat di Masjid Ghofilin, Kota Jember. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali sebagai sarana silaturahim dan konsolidasi antar pengurus DPC NAAT Jember bersama pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Jember. Seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan ini merupakan dzurriyah Walisongo.

Meskipun kegiatan berlangsung dalam kondisi cuaca hujan yang sangat deras, antusiasme dan semangat para peserta tidak surut. Kehadiran peserta tetap terjaga dengan baik, bahkan jumlah peserta yang hadir mencapai ratusan orang. Kondisi tersebut mencerminkan kuatnya semangat persaudaraan dan komitmen kebersamaan dalam bingkai NAAT sebagai organisasi silaturahim dzurriyah Walisongo.

Rangkaian acara dipandu oleh pembawa acara (MC) dan berlangsung dengan tertib serta khidmat. Acara diawali dengan pembukaan melalui pembacaan Surah Al-Fatihah yang diniatkan untuk para auliya’, leluhur, dan seluruh dzurriyah Walisongo. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dan tahlil bersama, yang semakin memperkuat suasana spiritual dan kekhusyukan jamaah.

Usai rangkaian dzikir dan doa, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk komitmen kebangsaan dan cinta tanah air. Selanjutnya, Mars NAAT dikumandangkan sebagai simbol identitas dan semangat organisasi, kemudian diteruskan dengan pembacaan Mahallul Qiyam sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW serta tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat di lingkungan dzurriyah ulama.

Sambutan pertama disampaikan oleh tuan rumah, Gus Baiquni Bani Assiddiq. Dalam sambutannya, disampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan anjangsana serta ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus dan peserta yang telah berkenan hadir meskipun cuaca tidak bersahabat. Ditekankan pula pentingnya menjaga tradisi silaturahim sebagai warisan luhur para ulama dan Walisongo.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua DPC NAAT Jember. Dalam sambutannya, disampaikan harapan agar seluruh peserta yang berkumpul dalam kegiatan anjangsana ini senantiasa menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah. Ditekankan bahwa tujuan utama berkumpul dalam NAAT adalah untuk menyambung persaudaraan, mempererat hubungan kekeluargaan, serta saling mengenal satu sama lain sebagai sesama dzurriyah.

Disampaikan pula bahwa melalui NAAT, banyak pihak yang sebelumnya tidak saling mengenal, kini dapat mengetahui hubungan kekerabatan, baik sebagai saudara dekat, sepupu, maupun kerabat dalam jalur nasab Walisongo. NAAT dipandang sebagai wadah yang mempersatukan ikatan darah, spiritual, dan sejarah dalam bingkai persaudaraan yang luas dan inklusif.

Dalam kesempatan tersebut, juga disampaikan capaian kinerja DPC NAAT Jember selama satu tahun terakhir. Dinyatakan bahwa dalam kurun waktu tersebut, DPC NAAT Jember telah berhasil membentuk 10 Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) di berbagai wilayah Kabupaten Jember. Selain itu, berbagai program telah dijalankan, meliputi program persaudaraan, kegiatan sosial, kajian kitab, hingga program napak tilas ke makam dan jejak sejarah para leluhur Walisongo.

Tidak hanya bergerak di bidang sosial dan keagamaan, DPC NAAT Jember juga telah merintis program pemberdayaan ekonomi. Salah satu program yang disampaikan adalah produksi pupuk yang diberi merek “NAAT”. Program ini diharapkan dapat menjadi sarana kemandirian ekonomi organisasi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat sekitar.

Setelah sambutan Ketua DPC NAAT Jember, acara dilanjutkan dengan penyerahan buku nasab dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NAAT kepada KH Fudoli selaku Wakil Ketua DPC NAAT Jember. Penyerahan buku nasab ini dimaknai sebagai bentuk penguatan data silsilah serta komitmen NAAT dalam menjaga keakuratan dan kehati-hatian dalam penetapan nasab dzurriyah Walisongo.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pengarahan dari Ketua Umum DPP NAAT. Kegiatan anjangsana ini dihadiri langsung oleh KH. Ilzamuddin Sholeh selaku Ketua Umum NAAT, Mohammad Subhan sebagai Sekretaris Jenderal NAAT, Neng Maya Ahmad selaku Bendahara Umum NAAT, serta KH. Hamud Mujib sebagai Rais Syuriah NAAT yang hadir langsung dari Kota Pasuruan.

Dalam pengarahan yang disampaikan oleh Ketua Umum NAAT, dijelaskan bahwa NAAT secara de facto telah berdiri sejak tahun 2014, sementara secara de jure ditetapkan secara resmi pada tahun 2017. Selanjutnya, NAAT ditetapkan sebagai organisasi nasional sejak tahun 2019. Penjelasan ini disampaikan untuk memberikan pemahaman sejarah dan legitimasi organisasi kepada seluruh anggota.

Ditekankan pula bahwa NAAT bukanlah organisasi bisnis, bukan organisasi politik, dan bukan organisasi yang bertujuan untuk menjelekkan pihak lain atau kelompok tertentu. NAAT ditegaskan sebagai organisasi silaturahim yang bertujuan mencari dan menyambung kembali ikatan keluarga dzurriyah Walisongo. Fokus utama NAAT adalah memperkuat persaudaraan, kebersamaan, dan kesinambungan nilai-nilai luhur para leluhur.

Dalam pengarahan tersebut, juga disampaikan pesan agar seluruh anggota NAAT dapat meneladani kegiatan-kegiatan baik yang telah dilakukan oleh para sesepuh dan leluhur, seperti mengaji, menuntut ilmu, berdakwah, dan berkhidmat kepada masyarakat. Setelah mengetahui silsilah dan nasab, anggota diingatkan agar tidak terjebak pada sikap bangga berlebihan yang justru dapat melahirkan perilaku kontra-produktif.

Ditekankan secara tegas bahwa nasab bukanlah alat untuk kesombongan atau pembenaran perilaku tercela. Perbuatan-perbuatan negatif seperti mencuri, melakukan tindakan asusila, atau perilaku yang mencoreng nama baik ulama dan dzurriyah, dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai NAAT. Justru, nasab harus menjadi pengingat moral untuk menjaga akhlak, martabat, dan tanggung jawab sosial.

Disampaikan pula bahwa NAAT mempersatukan para dzurriyah Walisongo yang berasal dari berbagai latar belakang. Perbedaan bahasa, suku, dan daerah dipandang sebagai keniscayaan, namun NAAT hadir untuk menyatukan seluruh perbedaan tersebut dalam ikatan darah dan spiritualitas Walisongo.

Dalam kesempatan yang sama, dijelaskan pula hasil riset NAAT terkait jalur nasab Walisongo. Disampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitian, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Muria, serta dua jalur Sunan Gunung Jati berasal dari garis Al-Husaini, sementara Walisongo lainnya berasal dari garis Al-Hasani. Penetapan tersebut dilakukan melalui kajian mendalam dengan berbasis data primer dan sekunder, serta melalui proses penelitian dan verifikasi yang intensif sebelum suatu nasab ditetapkan secara resmi.

Setelah pengarahan dari Ketua Umum NAAT, acara dilanjutkan dengan pengarahan dari Mustasyar DPC NAAT Jember, KH. Umar Syaifuddin. Dalam pengarahan tersebut, ditekankan pentingnya menjaga adab, etika, dan kekompakan dalam berorganisasi, serta menguatkan komitmen keulamaan dan kebangsaan dalam setiap aktivitas NAAT.

Rangkaian kegiatan anjangsana ini kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Hamid Mujib selaku Katib Syuriah NAAT. Doa dipanjatkan agar seluruh anggota NAAT senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, keistiqamahan, serta kekuatan untuk menjaga persaudaraan dan melanjutkan perjuangan para leluhur.

Melalui kegiatan anjangsana DPC NAAT Jember ini, diharapkan semangat silaturahim, persaudaraan dzurriyah Walisongo, serta komitmen menjaga nilai-nilai keulamaan dan kebangsaan dapat terus terpelihara dan berkembang di tengah masyarakat. (Sb/maya)