Oleh : Mohammad Subhan

(Dosen Pascasarjana Universitas Islam Madura & Sekretaris Dewan Pendidikan Pamekasan)

Di tengah laju peradaban yang kian pesat, di mana informasi mengalir tanpa sekat dan tantangan hidup semakin kompleks, kita menyaksikan adanya kesenjangan yang mencolok dalam sistem pendidikan kita. Anak-anak dan generasi muda kita, yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan, sering kali dididik untuk menjadi spesialis yang unggul di satu bidang, namun rapuh dalam aspek lain. Mereka mungkin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini, tetapi kering dari nilai-nilai spiritual dan karakter yang kokoh. Di sisi lain, ada pendidikan yang terlalu fokus pada aspek religius, tetapi kurang mampu membekali siswanya dengan kompetensi abad ke-21 yang dibutuhkan untuk bersaing di kancah global. Inilah titik krusial di mana pendidikan integratif hadir bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai sebuah keniscayaan.

Pendidikan integratif adalah jawaban atas kerinduan kita akan generasi yang utuh. Ia adalah sebuah pendekatan holistik yang menyatukan ilmu pengetahuan umum (sains, matematika, teknologi, sosial) dengan nilai-nilai keislaman (aqidah, akhlak, ibadah). Lebih dari sekadar menggabungkan dua kurikulum, pendidikan integratif adalah sebuah filosofi yang meyakini bahwa semua ilmu berasal dari satu sumber, yaitu Allah SWT. Sains mengajarkan kita tentang keagungan ciptaan-Nya, matematika melatih logika yang merupakan anugerah dari-Nya, dan sejarah membantu kita mengambil pelajaran dari perjalanan manusia yang ditetapkan oleh-Nya. Dengan demikian, setiap mata pelajaran bukan lagi sekadar pengetahuan, melainkan pintu gerbang untuk mengenal Sang Pencipta.

Di era modern yang serba cepat ini, pendidikan integratif membekali siswa dengan dua sayap yang kuat: sayap ilmu pengetahuan dan sayap iman. Sayap ilmu pengetahuan membuat mereka mampu berpikir kritis, berinovasi, dan memecahkan masalah-masalah dunia nyata. Mereka akan menjadi insinyur, dokter, ilmuwan, dan pengusaha yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual. Sayap iman membimbing mereka agar tidak tersesat dalam gemerlap dunia. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, jujur, peduli, dan berempati—karakter yang sangat dibutuhkan untuk membangun peradaban yang beradab dan damai.

Mendirikan sebuah sekolah dengan pendekatan integratif bukanlah tugas yang mudah. Ia membutuhkan visi yang kuat, perencanaan yang matang, dan komitmen yang tak tergoyahkan dari seluruh pihak, mulai dari pendiri yayasan, para pendidik, hingga orang tua siswa. Kita harus berani mendesain kurikulum yang inovatif, menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif, dan membangun tim pengajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati nurani. Ini adalah sebuah perjalanan panjang, namun setiap langkah yang kita ambil adalah investasi berharga untuk masa depan anak-anak kita.

Di era modern, seringkali terjadi pemisahan antara ilmu pengetahuan (sains, matematika, dll.) dan nilai-nilai spiritual. Pendidikan integratif hadir sebagai solusi untuk menyatukan kedua hal ini. Tujuannya adalah agar siswa memahami bahwa ilmu adalah jalan untuk mengenal kebesaran Tuhan, bukan entitas yang terpisah dari agama. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga memiliki landasan moral dan etika yang kuat. Berikut penulis akan memaparkan tentang beberapa fenomena dan dinamikan Pendidikan Integratif pada era modern ini yang akan menjadi best solusion para pendidikan anak-anak kita. Oleh sebab itu penulis sengaja ketengahkan dari berbagai konsep pendidikan yang ada ditenagh-tengah kita tidak memenuhi harapan kita sebagai orang tua dan banyaknya model yang juga tidak memilki karakter pendidikan yang diharapkan, belum lagi persoalan kebijakan pemerintah yang terkesan ganti menteri ganji kebijakan, ganti kurikulum, ganti model pembelajaran maka dampaknya adalah luaran atau lulusan dari produk pendidikan itu sendiri. Berikut Pendidikan integratif menjawab semua fenomena dan dinamika diatas.

Melawan Fragmentasi Ilmu dan Nilai

Dalam sebuah era di mana kompleksitas informasi dan disrupsi teknologi semakin tak terhindarkan, sistem pendidikan kita dihadapkan pada sebuah ironi besar: semakin spesifik ilmu pengetahuan, semakin besar pula jurang pemisah antara satu disiplin ilmu dengan yang lainnya. Akibatnya, kita menyaksikan lahirnya fragmentasi ilmu dan nilai, sebuah kondisi di mana pengetahuan terkotak-kotak, terisolasi, dan kehilangan koneksi esensialnya dengan realitas yang utuh. Pendidikan umum cenderung mengabaikan dimensi spiritual, sementara pendidikan agama sering kali terputus dari perkembangan sains dan teknologi. Di sinilah pendidikan integratif muncul sebagai sebuah manifesto, sebuah perlawanan terhadap fragmentasi tersebut, untuk mengembalikan keutuhan ilmu dan nilai.

Fragmentasi ilmu menciptakan individu-individu yang cerdas secara parsial. Seorang ahli biologi mungkin mampu menguraikan kompleksitas genetik, tetapi tidak memahami implikasi etika dari penemuannya. Seorang ekonom mungkin bisa menghitung pertumbuhan GDP, tetapi mengabaikan dampak sosial dan lingkungan dari kebijakan tersebut. Ilmu pengetahuan, yang seharusnya menjadi alat untuk memahami keagungan alam semesta dan mensejahterakan manusia, justru menjadi pedang bermata dua yang bisa disalahgunakan karena minimnya fondasi moral. Fragmentasi nilai, di sisi lain, melahirkan generasi yang mahir secara teknis, tetapi miskin secara karakter. Mereka mungkin sukses dalam karir, tetapi gagal dalam membangun hubungan, menghadapi tekanan, atau menemukan makna hidup. Pendidikan yang terpisah-pisah ini pada akhirnya gagal membentuk manusia seutuhnya.

Pendidikan integratif hadir untuk melawan kondisi ini dengan sebuah premis sederhana: ilmu dan nilai berasal dari satu sumber, yaitu Tuhan. Konsep ini bukan sekadar retorika, melainkan landasan filosofis yang kokoh. Sains dan matematika bukanlah sekadar alat hitung, melainkan bahasa untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Fisika mengajarkan kita tentang hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya; biologi mengungkap keajaiban penciptaan dari sel terkecil hingga makhluk terbesar. Ketika ilmu dipahami dalam kerangka ini, setiap penemuan ilmiah menjadi jalan untuk semakin mengenal dan mengagumi Sang Pencipta. Proses pembelajaran pun tidak lagi hanya soal menghafal rumus, tetapi menjadi sebuah ibadah, sebuah perjalanan spiritual yang menginspirasi.

Dalam praktiknya, pendidikan integratif meruntuhkan sekat-sekat mata pelajaran. Sejarah tidak lagi hanya tentang tanggal dan nama, melainkan cerminan dari sunnatullah tentang kebangkitan dan keruntuhan peradaban. Ekonomi bukan sekadar soal laba dan rugi, tetapi juga tentang keadilan dan distribusi kekayaan yang sesuai dengan prinsip syariah. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami bagaimana teori tersebut berinteraksi dengan realitas sosial, etika, dan spiritual. Mereka tidak hanya belajar menjadi ahli, tetapi juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran moral yang tinggi.

Selain itu, pendidikan integratif juga berfokus pada pembentukan karakter secara holistik. Kurikulum tidak hanya berisi materi pelajaran, tetapi juga pembiasaan-pembiasaan positif yang menginternalisasi nilai-nilai akhlak mulia. Kedisiplinan, kejujuran, empati, dan kerja sama tidak diajarkan secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam setiap kegiatan, dari ruang kelas hingga interaksi di luar pelajaran. Sekolah menjadi sebuah ekosistem yang membiasakan siswa untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai luhur, menjadikan mereka pribadi yang tangguh, beretika, dan berintegritas.

Mendirikan sebuah sekolah dengan pendekatan integratif adalah sebuah perjuangan melawan arus. Ia membutuhkan komitmen untuk merancang kurikulum yang fleksibel namun kuat, membangun tim pengajar yang visioner, dan menciptakan budaya yang kondusif. Ini bukan hanya soal melahirkan lulusan yang sukses di dunia, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki bekal untuk kehidupan yang bermakna di dunia dan akhirat. Dengan demikian, pendidikan integratif tidak hanya melawan fragmentasi ilmu dan nilai, tetapi juga menjawab tantangan terbesar di era modern: menciptakan manusia yang utuh, yang mampu membawa kemaslahatan bagi dirinya dan peradaban.

Menyiapkan Generasi yang Kompeten dan Berkarakter

Di era modern yang penuh dengan tantangan dan peluang, pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk generasi yang utuh. Sayangnya, sistem pendidikan konvensional seringkali menciptakan dikotomi yang memisahkan ilmu umum dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, lahir individu yang mungkin cerdas secara akademis, namun lemah dalam karakter, atau sebaliknya, kuat secara spiritual tetapi tidak kompetitif di dunia kerja. Konsep pendidikan Islam integratif hadir sebagai solusi fundamental untuk mengatasi masalah ini, dengan tujuan utama melahirkan generasi yang kompeten (menguasai ilmu) dan berkarakter (memiliki akhlak mulia).

Pendidikan integratif tidak sekadar menggabungkan dua kurikulum, tetapi lebih kepada sebuah filosofi yang melihat seluruh ilmu pengetahuan sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Dalam pandangan ini, sains, matematika, sejarah, dan seni bukan lagi disiplin ilmu yang terpisah dari agama. Sebaliknya, setiap subjek menjadi sarana untuk memahami keagungan Sang Pencipta. Belajar fisika adalah cara untuk merenungkan hukum alam yang telah ditetapkan oleh-Nya. Belajar biologi adalah cara untuk mengagumi keajaiban penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan demikian, proses belajar bukan hanya tentang akumulasi pengetahuan, tetapi juga tentang memperkuat iman dan ketakwaan.

Untuk menyiapkan generasi yang kompeten, pendidikan integratif harus berfokus pada pengembangan potensi intelektual secara maksimal. Kurikulum harus dirancang secara inovatif agar relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini mencakup penguasaan ilmu pengetahuan modern, keterampilan teknologi, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas. Namun, semua itu dibingkai dalam kerangka nilai-nilai Islam. Misalnya, dalam pelajaran biologi, siswa tidak hanya belajar tentang struktur sel, tetapi juga tentang bagaimana hal itu menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Dalam pelajaran ekonomi, mereka tidak hanya mempelajari teori-teori pasar, tetapi juga prinsip-prinsip ekonomi syariah yang adil dan beretika.

Di sisi lain, untuk membangun generasi yang berkarakter, pendidikan integratif menempatkan pembinaan akhlak sebagai inti dari seluruh proses. Karakter tidak bisa diajarkan secara terpisah dalam satu mata pelajaran, melainkan harus diinternalisasi melalui pembiasaan dan keteladanan. Pendidik tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan (uswah hasanah) yang mempraktikkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan empati. Budaya sekolah yang Islami, di mana shalat berjamaah, tilawah Al-Qur'an, dan kegiatan sosial menjadi rutinitas, akan membentuk lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan karakter. Setiap interaksi di sekolah, dari guru kepada siswa, antarsiswa, hingga staf, harus mencerminkan adab dan akhlak mulia.

Pada akhirnya, pendidikan Islam integratif bertujuan melahirkan manusia yang seimbang atau insan kamil. Mereka adalah individu yang memiliki kecerdasan intelektual (intellectual quotient), kecerdasan emosional (emotional quotient), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient) yang harmonis. Mereka mampu menjadi ilmuwan, teknokrat, atau pemimpin yang profesional dan kompeten, tetapi pada saat yang sama, mereka juga adalah hamba Allah yang saleh, berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka adalah generasi yang siap menghadapi kompleksitas dunia modern tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Konsep ini adalah investasi terbaik untuk masa depan umat, yang akan melahirkan pribadi-pribadi tangguh, berakhlak, dan mampu membawa kemaslahatan bagi seluruh alam.

Menjawab Tantangan Globalisasi dan Ideologi Sekuler

Globalisasi dan ideologi sekuler merupakan dua kekuatan dominan yang membentuk lanskap dunia modern. Globalisasi membawa kemajuan teknologi dan interkoneksi, tetapi juga menyebarkan budaya pop, nilai-nilai materialistis, dan pola pikir yang seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Ideologi sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan publik, mendorong pandangan bahwa agama adalah urusan pribadi yang tidak relevan dengan sains, politik, atau ekonomi. Kedua tantangan ini secara fundamental mengikis fondasi moral dan spiritual, menciptakan individu yang rentan terhadap krisis identitas dan kehilangan makna hidup. Dalam konteks ini, pendidikan Islam integratif hadir sebagai benteng intelektual dan spiritual, menawarkan kerangka holistik untuk menjawab tantangan tersebut.

Globalisasi membuka jendela dunia, tetapi juga membanjiri generasi muda dengan informasi yang tidak terfilter. Mereka terpapar pada gaya hidup, budaya, dan nilai-nilai yang jauh dari norma-norma keislaman. Pendidikan Islam integratif melawan arus ini dengan membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang berbasis nilai. Siswa tidak hanya diajari cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara mengevaluasi konten, membedakan antara informasi yang bermanfaat dan yang berbahaya, serta menggunakan platform digital untuk menyebarkan kebaikan. Kurikulum di sekolah integratif mendorong diskusi tentang dampak media sosial, cyberbullying, dan konsumerisme dari perspektif Islam. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga agen perubahan yang sadar dan bertanggung jawab. Berikut penulis kutip pandangan para pakar islam dan barat tentang tentang tantangan globalisasi dan ideologi sekuler.

Al-Faruqi, Ismail Raji. Dalam bukunya Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan menyebutnya islamisasi ilmu pengetahuan mendapatkan tantanga Sekularisasi Kurikulum: Globalisasi menyebarkan kurikulum yang value-neutral (netral nilai), padahal bagi Islam, ilmu harus berlandaskan etika. Tantangannya adalah merekonstruksi ilmu agar berpusat pada Tawhid, menolak pemisahan iman dan nalar.

Kemudian Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Dalam Islam and Secularism. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), menyebutnya krisis Pendidikan islam dengan menghadapi tantangan Definisi Ilmu dan Hilangnya Adab: Al-Attas berpendapat bahwa sekularisme adalah pandangan yang menyingkirkan realitas spiritual, termasuk makna transenden dari keberadaan. Tantangan utama bagi pendidikan Islam adalah hilangnya Adab (etika dan tata krama) yang disebabkan oleh definisi ilmu Barat yang sempit dan sekuler.

Berbeda dengan Fazlur Rahman, dalam Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition menyebutnya relevansi Pendidikan Menghadapi Modernitas: Rahman menekankan perlunya interpretasi ulang (ijtihad) terhadap sumber-sumber Islam agar relevan dengan tantangan modernitas. Tantangan globalisasi adalah risiko reaksi defensif (menolak modernitas) yang membuat pendidikan Islam menjadi tidak relevan, padahal Islam harus aktif membentuk modernitas.

Sementara Choudhury, Masudul Alam. Dalam bukunya The Principles of Islamic Political Economy: A Methodological Inquiry. Menegaskan tentang etika dan globalisasi dengan tantangan yang dihadapi adalah Sistem Ekonomi Global: Tantangan terbesar globalisasi adalah dominasi sistem ekonomi kapitalis dan liberal yang bertentangan dengan etika Islam (misalnya, riba, ketidakadilan distribusi). Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang mampu mereformasi sistem global dengan prinsip keadilan Islam.

Berbeda dengan pandangan Pakar dari barat seperti Apple, Michael W. dalam bukunya Ideology and Curriculum yang lantang berbicara hegemoni budaya dan Pendidikan dengan tantangan terberatnya menyangkut Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) yaitu Globalisasi dan sekulerisme menyebar melalui kurikulum sekolah, bukan secara eksplisit, tetapi melalui nilai-nilai yang terselubung (individualisme, konsumerisme). Tantangannya adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat melawan hegemoni ini melalui pendidikan kritis dan penguatan ideologi lokal.

Pandangan berbeda berasal dari Bourdieu, Pierre & Passeron, Jean-Claude. Reproduction in Education, Society and Culture, dengan mengusung Kapitalisme dan Pendidikan dimana Pendidikan global, yang didominasi nilai-nilai sekuler-kapitalis, cenderung mereproduksi struktur kelas yang ada. Tantangannya bagi sekolah Islam adalah bagaimana memastikan pendidikan integratif tidak hanya melayani kelas elit, tetapi menjadi sarana untuk mobilitas sosial tanpa mengorbankan nilai (cultural capital) jadi istilah konkritnya reproduksi ketidaksetaraan. Pandangan lain di dunia barat yang dinyatakan oleh Hall, Stuart. Dalam bukunya The Question of Cultural Identity yang intens dengan Hibriditas dan Identitas yaitu Erosi Identitas Lokal: Globalisasi menciptakan "hibriditas" budaya, di mana identitas menjadi cair dan tidak stabil. Tantangannya bagi sekolah Islam adalah bagaimana menguatkan identitas keislaman yang teguh dan otentik di tengah banjir informasi dan nilai-nilai Barat yang serba relatif (relativisme moral).

Bagi pakar Islam, tantangan utama adalah mempertahankan worldview tauhid dari ancaman sekularisme dan dikotomi ilmu. Sementara itu, pandangan Barat memperingatkan tentang dampak sosiologis dan struktural dari globalisasi, yaitu erosi identitas dan reproduksi ketidaksetaraan. Pendidikan Islam integratif harus mengambil pelajaran dari kedua sisi: melakukan rekonstruksi filosofis untuk menyatukan ilmu (Tawhid al-'Ilm) dan menerapkan pedagogi kritis untuk melawan hegemoni budaya global.

Maka dari berbagai pandangan diatas bahwa lebih jauh lagi, pendidikan integratif mempersiapkan siswa untuk menjadi warga dunia yang kompeten tanpa kehilangan identitas keislaman mereka. Penguasaan bahasa internasional, khususnya bahasa Inggris dan Arab, menjadi prioritas. Siswa didorong untuk berinteraksi dengan dunia internasional, baik melalui program pertukaran, kolaborasi proyek global, atau konferensi daring. Mereka diajari bahwa menjadi seorang Muslim yang baik juga berarti menjadi individu yang profesional, inovatif, dan mampu berkontribusi pada kemajuan umat manusia di tingkat global. Dengan demikian, mereka bisa berpartisipasi dalam pergaulan global bukan sebagai pengikut, melainkan sebagai duta yang bangga akan agamanya.

Kendati pula bahwa Ideologi sekuler menciptakan dikotomi palsu antara ilmu pengetahuan dan agama. Pandangan ini mereduksi agama menjadi ritual semata dan menganggap sains sebagai satu-satunya sumber kebenaran objektif. Pendidikan Islam integratif secara fundamental menolak premis ini. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan iman adalah dua sisi dari koin yang sama. Kurikulumnya dirancang untuk menunjukkan bagaimana setiap disiplin ilmu—dari fisika hingga biologi, dari matematika hingga astronomi—menjadi bukti kebesaran, kekuasaan, dan kebijaksanaan Allah.

Dalam pendekatan ini, pelajaran sains tidak hanya membahas teori-teori ilmiah, tetapi juga menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis yang relevan. Misalnya, saat mempelajari siklus air, guru akan menjelaskan bagaimana proses tersebut telah dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur'an, sehingga memperkuat keyakinan bahwa seluruh fenomena alam adalah bagian dari rencana ilahi.

Menciptakan Lulusan yang Inovatif dan Berakhlak Mulia

Sekolah Islam integratif akan menghadapi globalisasi dan revolusi industri 4.0 telah mengubah lanskap dunia secara fundamental. Di tengah arus perubahan ini, dunia membutuhkan lebih dari sekadar individu yang pintar—mereka membutuhkan lulusan yang inovatif dan berakhlak mulia. Inovasi tanpa akhlak dapat berujung pada kerusakan, sementara akhlak tanpa inovasi dapat membuatnya stagnan dan tidak relevan. Konsep pendidikan Islam integratif hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ini, dengan tujuan utama menciptakan lulusan yang mampu beradaptasi, berkreasi, dan memberikan kontribusi positif, sambil tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Para pakar Islam memandang inovasi (Ibtikar) sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah) untuk memajukan umat, namun harus dibimbing oleh etika dan tujuan Rabbani. Akhlak mulia (Adab) adalah prasyarat, bukan hanya pelengkap, dari inovasi. Berikut pandangan para pakar terkait hal tersebut diatas yaitu :

Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) menyatakan bahwa inovasi dan ilmu pengetahuan harus ditanamkan bersamaan dengan Adab (etika) untuk mengembalikan ilmu pada tempatnya yang benar. Lulusan yang inovatif tanpa akhlak hanya akan menciptakan fitnah (kerusakan). Sementara Al- Abū Ḥāmid Muḥammad. Ghazali, dalam karyanya Ihya' Ulumuddin (Revival of the Religious Sciences) menyebutkan bahwa Ihsan (melakukan sesuatu dengan kesempurnaan) dan Itqan (ketelitian) menjadi fondasi kualitas tertinggi dan inovasi. Lulusan harus memiliki motivasi spiritual (mencapai Ihsan) yang mendorong mereka untuk berinovasi tanpa batas.

Ismail Raji Al-Faruqi, dalam bukunya Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. International Institute of Islamic Thought (IIIT) menyebutkan bahwa lulusan yang inovatif adalah perwujudan dari Ulul Albab (orang yang menggunakan akal dan hati secara seimbang). Pendidikan harus diislamisasi agar inovasi selalu diarahkan untuk memecahkan masalah umat dan kemanusiaan (Maslahah), menolak inovasi yang merusak.

Masudul Alam Choudhury, dalam karyanya The Principles of Islamic Political Economy: A Methodological Inquiry, bahwa inovasi (khususnya di bidang ekonomi) harus didorong oleh prinsip keadilan distributif Islam. Lulusan harus menjadi agen inovasi yang menolak riba dan ketidaksetaraan, menjadikan akhlak (keadilan) sebagai kerangka kerja inovasi.

Kemudian mengutip pendapatnya pakar barat seperti Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success yang terkenal dengan konsepnya pola piker pertumbuhan yaitu Inovasi membutuhkan growth mindset—keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan. Lulusan yang inovatif tidak takut gagal. Akhlak (integritas) mendukung ini dengan memastikan kegagalan dihadapi dengan kejujuran dan upaya perbaikan. Kemudian pula Mezirow, Jack. Dalam bukunya Transformative Learning: Theory to Practice pengusung konsep konsep pembelajaran transformative yaitu Inovasi seringkali berasal dari pergeseran perspektif. Pembelajaran harus transformatif, mendorong lulusan untuk mempertanyakan asumsi lama. Akhlak (moralitas) menjadi filter etika yang memandu pergeseran perspektif ini agar tetap konstruktif dan bertanggung jawab sosial. Sementara juga Trilling, Bernie & Fadel, Charles. Dalam 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times, menyebut konsep kompetesi abad 21 yaitu Lulusan harus memiliki 4Cs (Critical thinking, Communication, Collaboration, Creativity/Innovation). Akhlak mulia mendukung Collaboration dan Critical Thinking yang bertanggung jawab, memastikan bahwa inovasi dilakukan secara etis dan untuk kebaikan bersama. Sementara pakar lain yaitu Brown, Tim dalam Change by Design: How Design Thinking Transforms Organizations and Inspires Innovation, menyatakan Inovasi yang efektif menggunakan Design Thinking, yang berpusat pada empati terhadap pengguna. Akhlak mulia (seperti rahmatan lil ‘alamin atau empati) menjadi mesin penggerak dalam mendesain solusi yang tidak hanya efisien tetapi juga manusiawi dan bermanfaat.

Maka penulis setelah membaca dua pandangan yang berbeda antara perspektif pakar Islam dan barat bahwa Integrasi kedua pandangan tersebut menunjukkan bahwa menciptakan lulusan yang inovatif dan berakhlak mulia memerlukan pendekatan dua arah:

  1. Dari Atas ke Bawah (Islam): Menanamkan Tawhid al-'Ilm dan Ihsan sebagai tujuan dan motivasi inovasi. Akhlak adalah kerangka filosofis.
  2. Dari Bawah ke Atas (Barat): Menyediakan skill kognitif (growth mindset dan Design Thinking) sebagai metodologi untuk mencapai tujuan Rabbani tersebut.

Sekolah Islam integratif harus menjadi laboratorium di mana siswa didorong untuk berinovasi (seperti Dweck dan Brown sarankan) tetapi dengan kompas moral Adab yang kuat (seperti Al-Attas dan Al-Ghazali sarankan).

Fondasi Inovasi: Ilmu Pengetahuan dan Kreativitas

Pendidikan Islam integratif tidak memandang inovasi sebagai sesuatu yang terpisah dari ajaran agama. Sebaliknya, ia melihat inovasi sebagai wujud konkret dari perintah Al-Qur'an untuk terus berpikir, meneliti, dan mengambil pelajaran dari alam semesta. "Mencari ilmu hingga ke negeri Cina" dan berbagai ayat tentang pentingnya berpikir kritis adalah landasan yang kuat untuk mendorong kreativitas dan inovasi.

Dalam praktiknya, kurikulum integratif dirancang untuk merangsang pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset) dan pemecahan masalah (problem-solving) pada siswa sejak dini. Pelajaran sains dan teknologi diajarkan tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai alat untuk menciptakan solusi nyata. Contohnya, dalam pelajaran fisika, siswa mungkin diminta untuk merancang dan membangun prototipe alat sederhana yang dapat menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar mereka. Hal ini mendorong mereka untuk berpikir di luar kotak, berkolaborasi, dan menerapkan ilmu yang mereka pelajari.

Fondasi Akhlak: Karakter dan Tanggung Jawab

Namun, inovasi saja tidak cukup. Tanpa fondasi akhlak yang kuat, kecerdasan dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, yang pada akhirnya merugikan masyarakat. Pendidikan integratif menempatkan pembinaan akhlak mulia sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Akhlak tidak hanya diajarkan sebagai teori di ruang kelas, melainkan diinternalisasi melalui setiap aspek kehidupan sekolah.

Sekolah integratif menciptakan ekosistem yang kondusif untuk pertumbuhan karakter. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan (uswah hasanah) yang menunjukkan integritas, kejujuran, dan empati dalam setiap tindakan. Kegiatan sehari-hari seperti shalat berjamaah, program sosial, dan interaksi di lingkungan sekolah menjadi sarana untuk melatih siswa agar memiliki sikap tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama. Mereka belajar bahwa inovasi yang mereka ciptakan harus membawa kemaslahatan bagi umat, bukan sekadar keuntungan material.

Perpaduan yang Harmonis: Inovasi Berlandaskan Iman

Ketika inovasi dan akhlak berpadu, lahirlah lulusan yang unggul dan berkarakter. Mereka adalah individu yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis dan intelektual yang tinggi, tetapi juga kompas moral yang kokoh. Mereka mampu menciptakan startup yang inovatif, mengembangkan teknologi baru, atau memimpin sebuah organisasi dengan etos kerja yang Islami. Mereka memahami bahwa tujuan dari inovasi bukan hanya untuk menciptakan kekayaan, tetapi juga untuk melayani umat dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Lulusan dari pendidikan Islam integratif adalah agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam profesi dan peran mereka. Mereka adalah ilmuwan yang melakukan penelitian dengan kejujuran, pengusaha yang menjalankan bisnis dengan etika, dan pemimpin yang melayani dengan keadilan. Mereka adalah contoh nyata bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan agama, dan menjadi seorang Muslim yang taat tidak berarti harus menolak kemajuan. Mereka adalah generasi yang membawa obor inovasi yang diterangi oleh cahaya iman, siap untuk membangun peradaban yang maju dan berakhlak mulia di era yang paling menantang sekalipun.

Membangun Peradaban Berbasis Nilai Islam

Peradaban adalah puncak pencapaian manusia, bukan hanya dalam bidang sains dan teknologi, tetapi juga dalam etika, budaya, dan spiritualitas. Sepanjang sejarah, peradaban besar selalu dibangun di atas fondasi nilai-nilai yang kuat. Namun, peradaban modern, yang sering kali didominasi oleh sekularisme dan materialisme, menghadapi krisis moral yang mendalam. Di sinilah pendidikan Islam integratif menawarkan sebuah visi baru: membangun peradaban berbasis nilai Islam. Ini bukan tentang kembali ke masa lalu, tetapi tentang menggunakan prinsip-prinsip abadi Islam untuk menciptakan peradaban yang maju, adil, dan manusiawi di era modern.

Konsep peradaban berbasis nilai Islam berakar pada keyakinan bahwa ilmu adalah kunci kemajuan, dan iman adalah kompas yang mengarahkannya. Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berpikir, meneliti, dan menciptakan. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW berulang kali menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, baik ilmu syar'i maupun ilmu dunia. Pendidikan Islam integratif menerjemahkan perintah ini menjadi sebuah kerangka kurikulum yang menyatukan keduanya.

Pandangan para pakar pendidikan Islam mengenai Membangun Peradaban Berbasis Nilai Islam berakar pada keyakinan bahwa pendidikan harus menjadi instrumen utama untuk mengembalikan ruh Islam ke dalam kehidupan modern, menolak sekularisme, dan menciptakan masyarakat yang beretika (beradab). Fokus utamanya adalah pada rekonstruksi epistemologi dan penanaman Adab.

Sebagai penguat keyakinan dari pandangan diatas penulis mencoba mengutip beberapa pandangan pakar pendidikan Islam seperti Ismail Raji Al-Faruqi, dalam Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. menyatakan Peradaban Islam harus dibangun di atas kesatuan ilmu (Tawhid al-'Ilm). Tantangan pendidikan adalah menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, serta merekonstruksi kurikulum agar setiap disiplin ilmu (sosial, sains) memancarkan nilai dan etika Islam. Kemudian disusul oleh pernyataan Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dalam karyanya Islam and Secularism. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) menyebutnya bahwa peradaban adalah hasil dari pendidikan yang benar. Pendidikan yang benar harus menanamkan Adab—disiplin diri dan penempatan sesuatu pada tempatnya yang benar dalam hierarki pengetahuan. Peradaban runtuh bukan karena kurangnya teknologi, tetapi karena hilangnya Adab akibat sekularisme. Sementara , H. Samsul Nizar dalam Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis menyatakan bahwa peradaban berbasis nilai harus dibangun melalui konsep tarbiyah (pendidikan holistik) yang lebih luas dari sekadar ta'lim (pengajaran). Pendidikan harus menghasilkan insan kamil (manusia sempurna) yang mampu berkontribusi pada masyarakat dan memiliki kesadaran diri spiritual yang tinggi. Sementara pula Fazlur Rahman, dalam bukunya Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition juga menyatakan bahwa Membangun peradaban membutuhkan pemikiran yang dinamis dan interpretasi ulang (ijtihad) yang relevan terhadap tantangan modernitas. Pendidikan harus melahirkan individu yang kritis, yang mampu mengambil nilai-nilai terbaik dari tradisi (sunnah) untuk memecahkan masalah kontemporer. Dan tidak ketinggalan pula Masudul Alam Choudhury, dalam The Principles of Islamic Political Economy: A Methodological Inquiry, menyatakan pendidkan untuk keadilan yaitu Peradaban Islam harus dibangun di atas keadilan ekonomi dan sosial. Pendidikan harus mengajarkan sistem ekonomi dan politik yang beretika, menolak eksploitasi dan riba, serta menghasilkan pemimpin yang inovatif namun berorientasi pada Maslahah (kebaikan umum).

Maka dalam pada ini secara keseluruhan, para pakar pendidikan Islam memandang pembangunan peradaban berbasis nilai sebagai proyek filosofis, etis, dan manajerial yang dilakukan melalui pendidikan. Tujuan pendidikan adalah melahirkan individu yang memiliki Adab dan Tawhid al-'Ilm, yang akan menjadi agen Islah (perbaikan) dalam struktur masyarakat.

Dalam peradaban yang dibangun atas dasar ini, seorang ilmuwan adalah seorang ulama, dan seorang ulama adalah seorang ilmuwan. Mereka memahami bahwa ilmu pengetahuan adalah ibadah dan setiap penemuan adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak hanya digunakan untuk mencapai kekuasaan atau keuntungan, tetapi untuk melayani umat manusia dan alam semesta. Ini adalah perlawanan terhadap peradaban materialistis yang melihat ilmu hanya sebagai komoditas.

Pendidikan Islam integratif membangun peradaban di atas tiga pilar utama yang saling terkait:

  1. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Peradaban tidak dapat dibangun tanpa inovasi. Pendidikan Islam integratif memastikan siswanya menguasai sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) dengan standar tertinggi. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajarkan untuk menjadi pencipta dan inovator. Namun, inovasi ini selalu diarahkan untuk membawa kebaikan dan kemaslahatan. Misalnya, teknologi informasi yang dikembangkan harus digunakan untuk menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat, bukan untuk menyebarkan informasi palsu atau konten yang merusak.
  2. Penanaman Akhlak dan Etika Islam: Peradaban yang maju secara materi tetapi miskin secara moral akan runtuh. Pendidikan integratif menempatkan akhlak sebagai inti dari seluruh proses. Siswa dilatih untuk memiliki integritas, empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Mereka belajar bahwa kekayaan dan kekuasaan harus digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Nilai-nilai ini diinternalisasi melalui pembiasaan sehari-hari, bukan hanya melalui teori di kelas. Mereka belajar bahwa berinteraksi dengan sesama harus dilandasi oleh kasih sayang, dan memimpin harus dilandasi oleh keadilan.
  3. Penguatan Identitas Spiritual dan Kemanusiaan: Globalisasi seringkali menyebabkan krisis identitas, di mana individu merasa terasing dari akar budaya dan spiritual mereka. Pendidikan Islam integratif memperkuat identitas siswa sebagai Muslim yang bangga, yang memahami sejarah dan warisan peradaban Islam yang kaya. Pada saat yang sama, mereka juga dididik untuk menjadi warga dunia yang menghargai keberagaman dan berempati terhadap penderitaan orang lain. Mereka diajarkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), dan tugas mereka adalah menjadi duta yang membawa kedamaian dan kebaikan bagi semua.

Ketika pendidikan Islam integratif berhasil, hasilnya adalah masyarakat yang tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga kaya secara moral dan spiritual. Ini akan melahirkan pemimpin yang adil, ilmuwan yang bertanggung jawab, pengusaha yang etis, dan seniman yang inspiratif. Mereka adalah individu yang memiliki visi jangka panjang, yang memahami bahwa setiap tindakan mereka memiliki konsekuensi di dunia dan akhirat. Mereka adalah pembawa obor peradaban yang menggabungkan kemajuan ilmiah dan teknologi dengan nilai-nilai luhur Islam.

Membangun peradaban berbasis nilai Islam adalah tugas yang monumental, tetapi juga sebuah panggilan mulia. Ini dimulai dari ruang-ruang kelas, di mana setiap anak dididik untuk menjadi agen perubahan, yang tidak hanya menguasai dunia, tetapi juga menggunakannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi—keridhaan Allah SWT.