Oleh : Mohammad Subhan (Suami Fatma Fillah)


Hari ini, 22 Desember 2025, kalender nasional mencatatnya sebagai Hari Ibu. Namun, bagi saya, hari ini adalah sebuah monumen peringatan atas perjalanan panjang selama 22 tahun yang penuh makna. Tepatnya sejak 22 Agustus 2003, langkah hidup saya tidak lagi berjalan sendiri. Ada sosok Fatma Fillah, perempuan luar biasa yang memilih untuk membersamai saya dalam setiap tarikan napas, suka, maupun duka.

Peran seorang ibu seringkali disederhanakan hanya dalam lingkup domestik. Padahal, jika kita merefleksikan perjalanan dua dekade lebih ini, sosok Ibu—khususnya istri saya Fatma—adalah arsitek peradaban di dalam keluarga kami. Membesarkan tiga buah hati, Kak Fifi, Kak Balqies, dan Abang Hanief, bukanlah sekadar tugas harian. Di tangan Fatma, mengasuh anak adalah upaya menanamkan nilai-nilai langit. Doa agar mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah bukan sekadar kata-kata, melainkan kerja keras yang ia tunjukkan melalui teladan kesabaran dan keteguhan iman.

Namun, kekaguman saya kepada Fatma Fillah tidak berhenti pada perannya sebagai ibu dari anak-anak kami. Kekuatan terbesarnya yang sering membuat saya tertegun adalah keluasan hatinya dalam mencintai. Di dunia yang terkadang menonjolkan batas antara "keluargaku" dan "keluargamu", Fatma menghapus sekat itu. Ia merangkul saudara-saudara saya seolah-olah mereka lahir dari rahim yang sama dengannya.

Lebih dari itu, baktinya kepada orang tua saya, Ny. Hj. Mariyah dan Abah AlHaj Bahri Abd Karim, adalah sebuah keindahan yang sulit dicari tandingannya. Tidak banyak menantu yang mampu membuat orang tua merasa memiliki anak kandung kembali. Fatma telah melakukannya. Mendengar orang tua saya berkata bahwa mereka bangga memiliki menantu seperti dirinya adalah kado terindah dalam pernikahan kami. Ia tidak hanya menjaga perasaan saya, tetapi ia menjaga kehormatan dan kebahagiaan orang tua saya di masa tua mereka.

Peran Ibu di tahun 2025 ini telah bertransformasi. Di tengah dunia yang semakin bising dengan teknologi dan perubahan zaman, Ibu seperti Fatma adalah jangkar. Ia memastikan bahwa meski zaman berubah, akar kasih sayang dan nilai agama di rumah tetap kokoh. Ia adalah "pendengar pertama" bagi keluh kesah Kak Fifi, "pemberi semangat" bagi Kak Balqies, dan "benteng doa" bagi Abang Hanief.

Terima kasih, Sayang, Fatma Fillah. Terima kasih telah bertahan dan terus mencinta sejak Agustus 2003 hingga hari ini. Terima kasih anak-anakku, yang telah tumbuh menjadi alasan kami untuk terus berjuang. Di Hari Ibu ini, opini saya sederhana: Keberhasilan seorang pria dan kebahagiaan sebuah keluarga tidak ditentukan oleh harta yang dikumpulkan, melainkan oleh kehadiran sosok Ibu yang tulus, yang menjadikan rumah sebagai madrasah dan surga kecil sebelum surga yang sebenarnya.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu dalam kesehatan, ketaatan, dan kebahagiaan yang abadi. Selamat Hari Ibu untuk istriku yang luar biasa.