Cirebon, 17 Januari 2026 — Telah dilaksanakan kegiatan Haul KH Hasan Bukro dan keluarga besar Syarif Abdurrahim Almakhfi yang bertempat di Madrasah Diniyah Desa Purwawinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan, serta dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, santri, dzurriyah, dan jamaah dari berbagai daerah. Kehadiran Ketua Umum Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT), KH. Ilzamuddin Sholeh, turut memberikan makna tersendiri dalam rangkaian acara haul tersebut.
Acara haul ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan dan pengingat atas jasa, perjuangan, serta keteladanan KH Hasan Bukro sebagai ulama yang memiliki peran penting dalam dakwah Islam dan pembinaan umat. Haul tidak hanya dipahami sebagai peringatan wafat, tetapi juga dimaknai sebagai momentum menghadirkan kembali nilai-nilai hidup, akhlak, dan perjuangan para ulama ke dalam kesadaran kolektif umat Islam masa kini.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipanjatkan secara bersama-sama, ditujukan kepada KH Hasan Bukro, keluarga besar beliau, para ulama, serta para leluhur yang telah mendahului. Pembacaan Al-Fatihah ini dimaksudkan sebagai doa awal agar seluruh rangkaian acara diberkahi oleh Allah SWT dan membawa manfaat spiritual bagi seluruh hadirin.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan nafirī kalam ilahi yang dilantunkan oleh Ustadz Aziz. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an tersebut menambah suasana religius dan kekhusyukan, sekaligus mengingatkan jamaah akan pentingnya Al-Qur’an sebagai sumber utama nilai, petunjuk, dan keteladanan hidup umat Islam. Suasana tenang dan khidmat menyelimuti area Madrasah Diniyah Desa Purwawinangun sepanjang pembacaan kalam ilahi tersebut.
Sambutan kemudian disampaikan oleh tuan rumah selaku perwakilan keluarga besar dan panitia pelaksana. Dalam sambutannya, disampaikan rasa syukur atas terselenggaranya haul KH Hasan Bukro serta ucapan terima kasih kepada seluruh jamaah dan tamu undangan yang telah berkenan hadir. Ditekankan pula bahwa haul ini merupakan ikhtiar untuk menjaga tradisi keulamaan, mempererat silaturahmi, serta menanamkan kecintaan kepada ulama dan leluhur kepada generasi muda.
Pada kesempatan yang sama, sambutan juga disampaikan oleh Ketua Umum Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT), KH. Ilzamuddin Sholeh. Dalam sambutannya, disampaikan napak tilas perjalanan hidup dan perjuangan KH Hasan Bukro sebagai sosok ulama yang dikenal istiqamah, berakhlak mulia, serta memiliki dedikasi tinggi dalam dakwah dan pendidikan Islam. Keteladanan beliau dalam menjaga nilai keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian kepada umat disampaikan sebagai warisan penting yang harus dijaga dan dilanjutkan.
Selain napak tilas tentang KH Hasan Bukro, dalam sambutan tersebut juga disampaikan penjelasan singkat mengenai organisasi Naqobah Ansab Auliya’ Tis’ah (NAAT). Dijelaskan bahwa NAAT merupakan perkumpulan yang berfokus pada konsolidasi, pendataan, dan penguatan dzurriyah Walisongo serta para auliya’, dengan tujuan utama menjaga sanad nasab dan sanad keilmuan. Kiprah NAAT juga ditekankan dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai ikhtiar memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara melalui pendekatan kultural, historis, dan spiritual.
Disampaikan pula bahwa konsolidasi dzurriyah Walisongo bukan semata-mata untuk kepentingan genealogis, melainkan sebagai sarana merawat nilai-nilai kebangsaan, keislaman moderat, serta warisan dakwah yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam konteks tersebut, peran ulama dan dzurriyah dipandang strategis dalam menjaga harmoni sosial, persatuan umat, dan stabilitas bangsa di tengah berbagai tantangan zaman.
Haul KH Hasan Bukro ini diketahui merupakan gagasan dan inisiatif dari KH Mujahidin Hasan, yang merupakan keturunan langsung KH Hasan Bukro. Melalui penyelenggaraan haul ini, diharapkan hubungan spiritual dan historis antara generasi penerus dengan para pendahulu dapat terus terjaga. Selain itu, haul juga dijadikan sebagai sarana edukasi spiritual bagi masyarakat agar semakin menghargai peran ulama dalam sejarah dan kehidupan berbangsa.
Setelah sambutan Ketua Umum NAAT, acara dilanjutkan dengan mau‘idhah hasanah yang disampaikan oleh KH Mustofa Aqiel Siradj. Beliau dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon sekaligus Rois Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam tausiyahnya, disampaikan pesan-pesan penting mengenai makna haul, adab terhadap ulama, serta kewajiban umat Islam untuk meneladani akhlak dan perjuangan para pendahulu.
Ditekankan dalam mau‘idhah tersebut bahwa ulama sejati tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup melalui ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan. Oleh karena itu, menjaga hubungan batin dan spiritual dengan para ulama dan leluhur dipandang sebagai bagian dari upaya merawat keberkahan hidup dan kesinambungan perjuangan Islam di berbagai lini kehidupan.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tahlil bayan yang dipimpin langsung oleh KH Mujahidin Hasan. Dalam tahlil tersebut, doa-doa dipanjatkan untuk KH Hasan Bukro, keluarga besar beliau, para ulama, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat yang telah wafat. Suasana penuh kekhidmatan terasa ketika jamaah bersama-sama melantunkan dzikir dan doa, memohonkan ampunan, rahmat, dan kemuliaan di sisi Allah SWT.
Sebagai penutup, acara diakhiri dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan ramah tamah antar jamaah, keluarga besar, dan para tamu undangan. Momen ramah tamah tersebut dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi, mempererat ukhuwah, serta memperkuat hubungan sosial dan spiritual di antara para hadirin.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum NAAT KH. Ilzamuddin Sholeh hadir didampingi oleh Sekretaris Jenderal NAAT Mohammad Subhan, Bdr. Yahya selaku Sekretaris LP3SN NAAT, serta Bapak Mochtar sebagai Asisten Ketua Umum. Kehadiran jajaran pengurus NAAT ini semakin menegaskan komitmen organisasi dalam merawat tradisi keulamaan, menjaga kesinambungan sanad, serta berkontribusi aktif dalam menjaga persatuan bangsa dan negara melalui pendekatan keislaman yang sejuk dan inklusif.
Melalui pelaksanaan haul KH Hasan Bukro ini, diharapkan nilai-nilai keteladanan ulama, semangat persatuan, dan keberkahan spiritual dapat terus mengalir dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang. (sb/maya)