SABAH (10/2/2026) — Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) Indonesia menghadiri kegiatan Diskusi Pra Sidang Meja Bulat (Pre-Round Discussion Table) yang diselenggarakan di Hallroom Likaz Square Serviced, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam format Forum Group Discussion (FGD) yang mempertemukan para peneliti, pencatat silsilah, serta pemerhati manuskrip sejarah Islam Nusantara dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Diskusi ini difokuskan pada kajian manuskrip klasik dan rekonstruksi salasilah tokoh-tokoh ulama besar yang memiliki pengaruh penting dalam penyebaran Islam di kawasan Nusantara, termasuk wilayah Jawa, Kalimantan, Sulu, Maguindanao, dan Brunei Darussalam. Berbagai naskah kuno, baik beraksara Jawa maupun Jawi, dibahas secara mendalam melalui pemaparan dan bedah manuskrip lintas negara.
NAAT Indonesia mendapat kesempatan pertama untuk memperkenalkan delegasinya. Ketua Umum NAAT, KH. Ilzamuddin, memperkenalkan jajaran rombongan yang terdiri dari Wakil Ketua NAAT Gus Muhsin dari Kalimantan Timur, Sekretaris Jenderal NAAT Dr. Mohammad Subhan, MA, Sekretaris Lembaga Penelitian, Pencatat dan Pelestarian Silsilah NAAT (LP3SN) Gus Yahya Algiri, serta perwakilan Badan Koordinasi dan Informasi Data Digital (Bakorda) NAAT Gus Ishlah Hamida. Perkenalan kemudian dilanjutkan oleh delegasi dari Filipina, Singapura, Thailand, dan Malaysia yang dipandu oleh Bunda Tun Susana.
Beberapa manuskrip utama menjadi fokus diskusi. Pertama, manuskrip Syarif Hasan dan Syarif Ali, dua menantu Ibrahim Asmara, yang dinilai penting dalam menelusuri kesinambungan dakwah Islam di wilayah Nusantara Barat. Kedua, pembahasan mengenai harmonisasi hubungan dua Syarif Kebungsuan yang selama ini memiliki variasi narasi dalam sejumlah manuskrip lokal.
Ketiga, dilakukan rekonstruksi salasilah Syarif Ali yang juga dikenal sebagai Sultan Barakat Brunei. Manuskrip ini berperan penting dalam menghubungkan sejarah kesultanan Brunei dengan jalur nasab para wali dan ulama di Nusantara. Keempat, ditelaah pula salinan manuskrip Jawa tentang Syekh Jumadil Kubra, tokoh sentral dalam genealogi Walisongo, yang banyak ditemukan dalam bentuk babad dan serat lokal.
Kelima, diskusi menyoroti upaya penggabungan manuskrip Jawa dan Jawi guna menemukan titik temu historis antara tradisi tulis lokal Jawa dan tradisi Melayu-Islam. Keenam, manuskrip yang membahas Karim al-Makhdum di Sulu dan Maguindanao dikaji sebagai bukti awal masuknya Islam di Filipina Selatan. Ketujuh, manuskrip Jawi dari dzurriyat Tabunaway dan Mamaluk turut dibahas sebagai penguat jejaring dakwah Islam lintas wilayah Asia Tenggara.
Kegiatan diskusi dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 12.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan istirahat. Berdasarkan konfirmasi media Assufah kepada Wakil Ketua NAAT Gus Muhsin, sesi FGD kembali dilanjutkan pada pukul 13.00 WIB hingga 14.30 WIB dengan pendalaman kajian manuskrip dan penyelarasan data antarnegara.
Diskusi ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat validasi data sejarah, manuskrip, dan silsilah ulama Nusantara secara ilmiah dan kolaboratif lintas negara.
Dalam pernyataan penutup Diskusi Pra Sidang Meja Bulat (Pre-Round Discussion Table) manuskrip dan silsilah ulama Nusantara yang digelar di Hallroom Likaz Square Serviced, Kota Kinabalu, Sabah, Ketua Umum Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) Indonesia menegaskan pentingnya sikap arif dan proporsional dalam mengkaji nasab dan silsilah.
Disampaikan bahwa kajian nasab tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk membanggakan diri secara berlebihan apalagi melahirkan sikap eksklusif di tengah masyarakat. Penelusuran silsilah justru dimaksudkan sebagai ikhtiar ilmiah dan spiritual untuk mengambil pelajaran dari keteladanan para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai dakwah, keilmuan, dan pengabdian sosial bagi umat dan bangsa.
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa para leluhur, khususnya Syekh Jumadil Kubra, para wali dan ulama Nusantara, dikenal bukan karena kemuliaan garis keturunannya semata, melainkan karena kegigihan mereka dalam berdakwah, membangun silaturahim lintas suku dan wilayah, serta mencerdaskan umat melalui pendidikan dan keteladanan akhlak. Nilai-nilai inilah yang dinilai relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Lebih lanjut disampaikan bahwa kajian silsilah dan manuskrip seharusnya diarahkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bukan sebaliknya. Dengan memahami sejarah dakwah para leluhur yang mengedepankan harmoni, toleransi, dan kebijaksanaan, diharapkan lahir kesadaran kolektif untuk menjaga keutuhan masyarakat yang majemuk.
Forum juga diajak untuk memandang pentingnya dimensi kesejahteraan sosial dalam melanjutkan nilai perjuangan para pendahulu. Pembangunan perekonomian umat disebut sebagai bagian tak terpisahkan dari misi dakwah dan pengabdian. Melalui penguatan ekonomi yang baik dan berkeadilan, peluang untuk mencerdaskan masyarakat, termasuk memberikan akses pendidikan dan beasiswa kepada generasi muda, dinilai akan semakin terbuka.
Pernyataan penutup tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari para peserta forum lintas negara yang hadir. Pesan tersebut dipandang sebagai penegasan bahwa kajian nasab dan manuskrip bukan sekadar upaya pelestarian sejarah, melainkan juga sebagai pijakan moral dan strategis dalam membangun peradaban yang berkeadilan, berilmu, dan berkeutuhan sosial.
Diskusi pra sidang ini pun ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan kerja-kerja kolaboratif lintas negara dalam bidang penelitian manuskrip, silsilah, dan penguatan nilai-nilai persatuan umat di kawasan Asia Tenggara. (SB & YHY)